SELEPAS TAHLIL

SELEPAS TAHLIL

SELEPAS TAHLIL

Setelah Hadi, kepala keluarga yang disegani di sebuah desa Jawa Timur, meninggal dunia karena sakit, anak-anaknya—Saras dan Yudhis—pulang ke kampung halaman untuk mengurus pemakaman. Prosesi berjalan sesuai adat: dimakamkan, lalu malam pertama diadakan tahlilan. Rumah penuh tamu. Semua tenang, hingga malam itu berubah jadi awal dari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Selepas tahlil pertama selesai, ketika para tetangga mulai pulang, dan keluarga hendak beristirahat, terdengar suara pintu terbuka. Di ruang tengah, sesosok tubuh berjalan pelan dengan kaki telanjang, pakaiannya masih kain kafan, wajahnya pucat. Itu Hadi—yang seharusnya sudah dikubur tadi siang—berdiri di depan anak-anaknya. Orang-orang menjerit. Beberapa pingsan. Mayat itu hanya berdiri beberapa detik, lalu berbalik dan berjalan keluar rumah.

Paginya, jasad Hadi ditemukan di pinggir kuburannya yang terbongkar sebagian. Tubuhnya masih utuh, tidak membusuk, dan tidak ada bekas luka. Polisi datang, tapi tak bisa menjelaskan. Mereka mengira ini ulah orang iseng. Tapi keluarga tahu: ini bukan manusia biasa.

Saras, anak sulung yang rasional dan bekerja di kota, mencoba mencari penjelasan logis. Ia menganggap semua ini bisa dijelaskan secara medis, atau mungkin ada yang memainkan ilmu hitam. Tapi Yudhis, adik laki-lakinya yang lebih emosional dan percaya dunia gaib, yakin arwah ayah mereka belum tenang. Ada sesuatu yang belum selesai.

Saat membersihkan kamar Hadi, Yudhis menemukan sebuah kotak tua terkunci. Di dalamnya ada surat dengan tulisan tangan Hadi. Surat itu adalah semacam wasiat—tapi bukan soal harta. Itu berisi penyesalan, pengakuan, dan peringatan. Hadi menulis bahwa ia pernah melakukan sesuatu “yang tidak semestinya”, demi menjaga keluarganya tetap utuh. Ia bicara soal perjanjian dengan “penjaga batas”, sosok yang akan datang menjemput saat waktunya tiba.

Wasiat itu menyebut satu kalimat yang berulang: “Tebus yang dijanjikan, atau semua akan dibawa.”

Yudhis yakin ini berkaitan dengan kembalinya ayah mereka. Saras tidak langsung percaya, tapi mulai terganggu. Ia mulai bermimpi melihat ayah mereka duduk di pojok kamar, menatap kosong, atau mendengar suara Hadi memanggil namanya saat malam. Kadang ia mencium bau tanah basah di dalam rumah, padahal cuaca kering.

Tahlilan kedua digelar. Kali ini lebih sunyi. Banyak tetangga tidak mau datang karena takut. Tapi keluarga tetap mengadakan karena merasa harus menenangkan arwah. Malam itu, kejadian serupa terulang. Lampu berkedip. Bayangan berjalan melintas. Hadi kembali muncul, tapi tidak seperti malam pertama. Kini tubuhnya terlihat lebih rusak, matanya kosong, bibirnya bergerak seperti ingin bicara, tapi tak bersuara.

Yudhis memutuskan pergi menemui seorang dukun tua di desa sebelah, bernama Mbah Ladiyo. Dukun itu mengenal Hadi sejak muda. Ia mengaku bahwa dulu Hadi datang padanya, memohon agar diberikan cara supaya keluarganya tidak tercerai-berai setelah kejadian kelam. Mbah Ladiyo menolak memberi ilmu itu, tapi Hadi menemukan jalan sendiri—jalan gelap.

Mbah Ladiyo bilang, Hadi memanggil “penjaga batas”—makhluk yang menahan takdir kematian, menunda ajal dengan syarat. Tapi perjanjian itu harus dibayar: jika tidak, arwah Hadi akan tersesat, dan keluarga akan jadi pengganti tumbal.

Sementara itu, Saras menemukan buku catatan Hadi berisi ritual dan simbol aneh. Semakin dibaca, Saras mulai yakin. Ia ingat masa kecilnya, saat ibunya meninggal secara tidak wajar. Ia baru sadar: semua mungkin berkaitan. Ayahnya mencoba menyelamatkan ibunya tapi gagal, lalu membuat perjanjian agar anak-anaknya tidak mengalami nasib yang sama.

Yudhis dan Saras memutuskan melakukan penebusan, seperti ditulis di surat wasiat. Tapi penebusan itu bukan sekadar ritual. Mereka harus menyerahkan “kenangan terdalam”—sesuatu yang paling mereka cintai tentang ayah mereka, untuk melepaskan ikatan roh dengan dunia ini.

Mereka menggelar tahlilan ketiga. Di malam yang gelap, rumah dipenuhi asap dupa. Angin kencang menghantam jendela. Ketika doa dibacakan, Hadi muncul lagi. Kali ini tidak hanya berdiri. Ia mendekati mereka. Mata Yudhis berlinang saat membacakan isi wasiat. Saras memegang foto keluarga mereka, lalu membakarnya sambil memejamkan mata, mengucapkan kalimat: “Ayah, aku lepaskan semuanya.”

Tubuh Hadi mulai retak seperti tanah kering. Suaranya terdengar untuk pertama kali: “Terima kasih.” Ia tersenyum, dan tubuhnya hancur menjadi abu yang tertiup angin. Lampu padam. Semua jadi senyap.

Keesokan harinya, suasana berubah. Rumah tidak lagi dingin. Tidak ada suara langkah. Tidak ada bayangan. Tapi di akhir film, saat Saras hendak kembali ke kota, ia melihat di cermin belakang mobil: sosok samar ayahnya duduk di bangku belakang. Bukan menyeramkan, hanya diam, seolah ingin memastikan anak-anaknya benar-benar bisa hidup tanpa bayangannya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *