Rego Nyowo

Rego Nyowo

Rego Nyowo mengisahkan perjalanan menegangkan sekelompok sahabat yang memutuskan untuk kembali ke kampung halaman salah satu dari mereka di sebuah desa terpencil di Jawa, yang terkenal dengan tradisi kuno “Rego Nyowo” atau “harga nyawa” — sebuah ritual misterius yang konon dilakukan untuk membayar hutang jiwa kepada makhluk gaib penjaga desa. Cerita dimulai ketika Bagas, tokoh utama, mendapat kabar bahwa ibunya sakit keras dan satu-satunya cara untuk menyembuhkannya adalah dengan mengadakan ritual Rego Nyowo, sebagaimana wasiat dari leluhur yang disampaikan oleh kakeknya. Bagas yang skeptis awalnya menolak, namun desakan keluarga dan kondisi ibunya membuat ia menyerah. Ia mengajak tiga temannya — Rani, Dimas, dan Ayu — untuk menemaninya pulang ke desa itu. Setibanya di sana, suasana mencekam langsung terasa: udara dingin menusuk meski bukan musim hujan, warga desa berbicara berbisik-bisik, dan tatapan mereka penuh curiga pada para pendatang. Malam pertama, mereka mulai mendengar suara gamelan yang berasal dari tengah hutan meski tak ada acara apapun di desa. Rani yang penasaran diam-diam keluar mencari sumber suara, namun ia melihat sosok perempuan berambut panjang dengan wajah penuh darah yang memanggil namanya. Esoknya, warga desa memperingatkan bahwa setiap orang yang mengikuti ritual Rego Nyowo harus siap kehilangan “sesuatu yang paling berharga”, entah nyawa orang terdekat atau jiwanya sendiri. Dimas mulai mimpi buruk tentang tubuhnya yang ditarik ke sumur tua di tengah hutan, sementara Ayu mendapati tubuhnya penuh luka cakaran saat bangun tidur. Ketegangan memuncak ketika Bagas mengetahui bahwa untuk menyelamatkan ibunya, ia harus menyerahkan satu jiwa dari orang yang ia bawa, sebagai “tumbal” perjanjian lama keluarganya dengan makhluk gaib penjaga desa. Rasa bersalah menghantui Bagas karena itu berarti ia harus mengorbankan salah satu sahabatnya. Pada malam puncak ritual, warga desa berkumpul di hutan, menyalakan obor, dan memanggil makhluk gaib dengan mantra kuno. Sosok tinggi berbalut kain hitam muncul di antara kabut, matanya merah menyala, suaranya berbisik di telinga Bagas menagih tumbal. Di tengah kekacauan, Rani mencoba melarikan diri namun terjebak di antara pepohonan yang tiba-tiba berubah seperti dinding hidup, sementara Dimas diseret ke arah sumur. Bagas berusaha melawan takdir dengan menukar nyawanya sendiri, namun makhluk itu menolak dan mengatakan bahwa “harga” telah ditentukan sejak ia meninggalkan kota. Akhirnya Ayu tertarik ke dalam kegelapan, menghilang tanpa jejak, dan ritual berakhir dengan keheningan mencekam. Ibunya Bagas sembuh keesokan harinya, namun tatapannya kosong seperti kehilangan jiwa, dan Bagas dihantui rasa bersalah seumur hidupnya. Film berakhir dengan adegan Bagas yang duduk sendirian di rumah, mendengar kembali suara gamelan dari kejauhan, menandakan bahwa perjanjian Rego Nyowo belum sepenuhnya selesai dan suatu hari harga nyawa berikutnya akan ditagih kembali.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *