Film Medusatoto Danyang Wingit Jumat Kliwon mengangkat kisah horor mistis yang berakar kuat pada kepercayaan Jawa tentang danyang, yakni penjaga gaib suatu wilayah yang memiliki kekuasaan atas keseimbangan alam dan manusia di sekitarnya. Cerita berpusat pada sebuah desa terpencil yang tampak tenang di siang hari, namun menyimpan rahasia kelam yang hanya berani dibisikkan ketika malam tiba, terutama saat Jumat Kliwon, hari yang dipercaya sebagai puncak terbukanya gerbang antara dunia manusia dan dunia makhluk tak kasatmata.
Kisah bermula ketika sekelompok orang dengan latar belakang berbeda datang ke desa tersebut karena alasan ekonomi dan kepentingan pribadi. Ada yang berniat membuka usaha penginapan, ada pula yang sekadar ingin mencari tempat tinggal baru dengan harga tanah murah. Mereka melihat desa itu sebagai peluang, tanpa mengetahui bahwa tanah yang mereka pijak bukanlah tanah biasa. Warga desa yang tersisa sebenarnya sudah lama hidup dalam ketakutan dan kepasrahan. Mereka mematuhi aturan-aturan adat yang terlihat aneh bagi orang luar, seperti larangan keluar rumah saat malam Jumat Kliwon, larangan berkata kasar di area tertentu, serta kewajiban memberikan sesajen di titik-titik tertentu desa.
Konflik mulai muncul ketika para pendatang menganggap semua kepercayaan itu sebagai mitos kuno yang tidak relevan. Mereka mulai melanggar pantangan, membangun tanpa izin adat, dan merusak area yang ternyata merupakan wilayah kekuasaan sang danyang. Sejak saat itu, kejadian-kejadian aneh mulai bermunculan. Suara gamelan terdengar di tengah malam tanpa sumber yang jelas, bayangan perempuan berambut panjang sering terlihat di pinggir hutan, dan beberapa warga mengalami mimpi buruk yang sama seolah mereka sedang dipanggil oleh sesuatu.
Puncak teror terjadi ketika Jumat Kliwon tiba. Atmosfer desa berubah drastis, udara terasa lebih berat, dan rasa takut seolah merayap ke setiap sudut. Satu per satu pendatang mulai mengalami kejadian yang mengusik logika. Ada yang merasa diikuti, ada yang mendengar bisikan menyebut namanya, dan ada pula yang melihat sosok gaib yang memperlihatkan wujudnya secara samar. Danyang wingit digambarkan bukan sekadar makhluk jahat, melainkan entitas tua yang menjaga keseimbangan, namun akan menuntut balasan jika wilayahnya dilanggar tanpa hormat.
Seiring cerita berjalan, terungkap sejarah kelam desa tersebut. Dahulu, tempat itu adalah lokasi perjanjian antara manusia dan makhluk gaib. Pengorbanan dan sumpah adat dilakukan agar desa terlindungi dari bencana. Namun, seiring waktu, generasi baru melupakan makna perjanjian itu dan hanya menjalankan ritual sebagai formalitas. Kedatangan orang luar yang serakah menjadi pemicu bangkitnya amarah sang danyang yang merasa dilupakan dan dikhianati.
Tokoh utama dalam film ini perlahan menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan teror adalah dengan mengembalikan keseimbangan dan menghormati adat yang telah lama ditinggalkan. Ia harus menghadapi ketakutannya sendiri dan memilih antara menyelamatkan diri atau membantu desa menghadapi konsekuensi dari kesalahan kolektif mereka. Ketegangan dibangun bukan hanya melalui penampakan makhluk gaib, tetapi juga melalui konflik batin, rasa bersalah, dan penyesalan manusia terhadap alam dan tradisi.
Akhir cerita meninggalkan kesan mendalam dan mencekam. Jumat Kliwon tidak lagi sekadar hari dalam kalender, melainkan simbol peringatan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diukur dengan logika semata. Film ini menekankan pesan bahwa kearifan lokal, adat, dan rasa hormat terhadap alam bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Danyang Wingit Jumat Kliwon menjadi gambaran horor yang tidak hanya menakutkan secara visual, tetapi juga mengajak penonton merenung tentang hubungan manusia dengan dunia yang tak terlihat namun selalu mengawasi.




