Film Dusun Mayit berawal dari kedatangan sekelompok anak muda ke sebuah desa terpencil yang sudah lama dikenal memiliki reputasi buruk. Desa itu bernama Dusun Mayit, sebuah tempat yang seolah terputus dari dunia luar. Jalan menuju desa sempit, dikelilingi hutan lebat, dan sinyal hampir tidak ada. Awalnya, kedatangan mereka hanya bertujuan untuk perjalanan biasa dan memenuhi rasa penasaran, karena salah satu dari mereka pernah mendengar cerita tentang desa yang “ditinggalkan” namun masih dihuni.
Sesampainya di Dusun Mayit Medusatoto , suasana langsung terasa janggal. Rumah-rumah tampak tua dan kusam, penduduknya sedikit, dan hampir semuanya bersikap dingin serta tertutup. Tidak ada yang benar-benar ramah, seolah kehadiran orang luar adalah sesuatu yang tidak diinginkan. Seorang warga tua sempat memperingatkan agar mereka tidak keluar rumah saat malam tiba, tapi peringatan itu tidak dijelaskan alasannya. Karena menganggapnya hanya mitos desa, mereka memilih mengabaikan.
Malam pertama di dusun tersebut mulai memperlihatkan keanehan. Salah satu dari mereka mendengar suara langkah kaki di luar rumah, disusul bisikan samar yang tidak jelas asalnya. Lampu sering mati sendiri, dan udara terasa dingin meski cuaca sebenarnya normal. Beberapa anggota mulai merasa tidak nyaman, tetapi masih berusaha berpikir logis dan menenangkan diri.
Keesokan harinya, mereka mencoba berinteraksi lebih jauh dengan warga desa. Dari percakapan singkat yang penuh keengganan, terungkap bahwa Dusun Mayit menyimpan sejarah kelam. Dahulu pernah terjadi peristiwa tragis yang melibatkan kematian banyak orang dalam waktu singkat. Sejak saat itu, desa tersebut dipercaya tidak pernah benar-benar “sepi”, karena roh-roh orang yang meninggal diyakini masih bergentayangan dan terikat pada tanah dusun.
Keanehan semakin memuncak ketika satu per satu anggota rombongan mengalami gangguan. Ada yang melihat sosok samar berdiri di ujung jalan, ada yang mendengar namanya dipanggil padahal tidak ada siapa-siapa. Mereka mulai menyadari bahwa gangguan tersebut bukan sekadar halusinasi atau rasa takut semata. Seakan-akan ada sesuatu yang sengaja mempermainkan mereka.
Saat salah satu dari mereka menghilang tanpa jejak, kepanikan mulai muncul. Pencarian dilakukan di sekitar dusun, namun tidak membuahkan hasil. Warga desa justru terlihat pasrah, seolah kejadian tersebut sudah biasa terjadi. Dari sinilah mereka menyadari bahwa Dusun Mayit bukan sekadar tempat dengan cerita seram, tetapi sebuah wilayah yang “memilih” siapa saja yang boleh pergi dan siapa yang harus tinggal.
Dalam upaya menyelamatkan diri, mereka mencoba meninggalkan dusun, namun jalan keluar selalu terasa berputar-putar dan membawa mereka kembali ke tempat yang sama. Hutan seolah menutup diri, dan waktu terasa berjalan tidak normal. Siang terasa singkat, malam terasa sangat panjang. Ketakutan mulai berubah menjadi keputusasaan.
Salah satu dari mereka akhirnya menemukan catatan lama yang menjelaskan bahwa arwah-arwah di Dusun Mayit terikat karena ritual keliru di masa lalu. Ritual tersebut dilakukan untuk melindungi desa, tetapi justru menciptakan kutukan. Orang luar yang masuk tanpa izin dianggap sebagai pengganti, untuk menjaga keseimbangan antara dunia hidup dan dunia arwah.
Konflik batin pun muncul. Mereka dihadapkan pada pilihan sulit: terus melawan dan mempertaruhkan nyawa, atau menerima kenyataan bahwa tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup. Hubungan antar mereka mulai retak karena rasa takut dan saling curiga. Ada yang mulai bersikap egois demi menyelamatkan diri sendiri.
Menjelang akhir cerita, terungkap bahwa Dusun Mayit tidak hanya dihuni oleh roh orang mati, tetapi juga oleh rasa bersalah dan penyesalan manusia yang pernah hidup di sana. Teror yang dialami bukan semata-mata untuk menakuti, tetapi untuk “mengingatkan”. Pada akhirnya, hanya sebagian yang berhasil keluar dari dusun tersebut, membawa trauma mendalam yang tidak akan pernah hilang.
Film Dusun Mayit ditutup dengan suasana sunyi yang mencekam, memperlihatkan bahwa dusun tersebut masih berdiri, menunggu kedatangan orang berikutnya. Seolah menjadi pengingat bahwa ada tempat-tempat tertentu yang seharusnya tidak diganggu, dan ada rahasia yang lebih baik dibiarkan tetap terkubur.





