Janur Ireng adalah film horor Indonesia yang mengangkat kepercayaan mistis Jawa tentang pertanda kematian, kutukan leluhur, dan rahasia gelap yang diwariskan turun-temurun. Film ini memadukan horor tradisional, drama keluarga, dan konflik batin yang perlahan berkembang menjadi teror mencekam.
Cerita berpusat pada Ratri, seorang perempuan muda yang telah lama meninggalkan desa kelahirannya setelah kematian ayahnya yang misterius Medusatoto. Sejak kecil, Ratri tumbuh dengan rasa takut terhadap tradisi desa yang kental dengan ritual dan larangan adat. Ia memilih hidup di kota dan menjauh dari masa lalu yang baginya penuh trauma. Namun, sebuah kabar kematian mendadak memaksanya kembali ke desa untuk menghadiri pemakaman pamannya.
Setibanya di desa, Ratri mulai merasakan kejanggalan. Desa itu tampak sunyi, warganya tertutup, dan setiap rumah memasang janur berwarna kehitaman (janur ireng) di depan pintu. Menurut kepercayaan setempat, janur ireng bukan sekadar hiasan, melainkan penanda bahwa rumah tersebut sedang “ditandai” oleh sesuatu yang tak kasatmata. Warga meyakini bahwa siapa pun yang melanggar pantangan saat janur ireng terpasang, akan membawa bencana bagi seluruh keluarga.
Ratri tinggal di rumah peninggalan keluarganya bersama ibunya yang kini terlihat berubah: pendiam, penuh ketakutan, dan seolah menyembunyikan sesuatu. Setiap malam, Ratri mendengar suara aneh dari halaman belakang—suara daun kering terseret, bisikan pelan, dan langkah kaki yang berhenti tepat di depan kamarnya. Mimpi buruk mulai menghantuinya: bayangan perempuan berambut panjang, wajah tertutup kain janur, berdiri di bawah cahaya rembulan.
Ratri mencoba mencari jawaban dengan bertanya pada Wira, teman masa kecilnya yang kini menjadi salah satu pemuda desa. Dari Wira, Ratri mengetahui bahwa keluarganya memiliki ikatan lama dengan ritual janur ireng, sebuah perjanjian leluhur yang dulu dilakukan demi keselamatan desa. Namun, perjanjian itu menuntut pengorbanan, dan generasi penerus wajib menepatinya. Ayah Ratri diduga meninggal karena mencoba memutus ritual tersebut.
Ketika satu per satu warga desa meninggal secara tidak wajar—mulai dari kecelakaan hingga sakit mendadak—kecurigaan mengarah pada kembalinya Ratri. Warga percaya kehadirannya telah membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur. Janur ireng semakin banyak terpasang, suasana desa makin mencekam, dan rasa takut berubah menjadi amarah kolektif.
Ratri akhirnya menemukan catatan lama milik neneknya yang mengungkap kebenaran mengerikan: ritual janur ireng bukanlah perlindungan, melainkan kutukan. Pengorbanan yang dulu dilakukan menciptakan siklus kematian yang tak pernah benar-benar berhenti. Keluarganya selama ini dijadikan “penjaga” kutukan tersebut agar tidak lepas dan menghancurkan desa.
Dihadapkan pada pilihan mustahil, Ratri harus memutuskan: melarikan diri dan membiarkan kutukan terus menelan korban, atau menghadapi ritual terakhir yang bisa menghentikan segalanya—dengan risiko nyawanya sendiri. Klimaks film memperlihatkan benturan antara tradisi, rasa bersalah, dan keberanian untuk melawan warisan kelam.
Janur Ireng bukan sekadar film horor dengan jumpscare, melainkan kisah tentang beban tradisi, trauma keluarga, dan keberanian memutus rantai kutukan. Dengan atmosfer gelap, simbolisme budaya Jawa, dan teror yang perlahan merayap, film ini menghadirkan horor yang menghantui bahkan setelah layar gelap.




