Home / Uncategorized / Syirik: Danyang Laut Selatan

Syirik: Danyang Laut Selatan

“Syirik: Danyang Laut Selatan” mengikuti perjalanan Said, seorang pemuda yang baru kembali dari pesantren setelah enam tahun meninggalkan kampung halamannya, Wonosari. Ia pulang dengan harapan bisa hidup tenang bersama ibunya dan melanjutkan kehidupan seperti biasa. Namun sesampainya di desa, Said justru dihadapkan pada perubahan yang jauh dari bayangannya. Desa yang dulu damai kini dipenuhi aura mencekam, penuh dengan ritual-ritual mistis yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Banyak penduduk yang mulai terlibat dalam praktik spiritual yang tidak selaras dengan ajaran agama, bahkan terkesan menyalahi nilai-nilai yang pernah dia pelajari.

Kepulangannya tidak hanya mengungkap perubahan desa, tapi juga mempertemukannya kembali dengan Sari, gadis masa kecil yang dulu pernah mengisi hatinya. Sari kini tumbuh menjadi perempuan dewasa yang baik hati, namun ia berada dalam tekanan sosial dan tradisi yang menjerat hidupnya. Ibu Said, Santika, termasuk salah satu orang yang terlibat dalam menguatnya ritual desa. Tanpa sepengetahuan Said medusatoto, Santika sangat mendorong Sari untuk menjadi penari utama dalam ritual tahunan yang dianggap membawa “berkah” bagi desa. Said awalnya mengira semua itu hanya tradisi budaya biasa, sampai ia menyadari bahwa ritual tersebut mengandung praktik syirik yang melibatkan pemanggilan entitas gaib penjaga laut, yang disebut Danyang Laut Selatan.

Di sisi lain, muncul sosok Ningsih, seorang penari ambisius yang membenci kenyataan bahwa Sari terpilih menjadi pusat perhatian. Ningsih bersedia melakukan apa saja untuk menggantikan posisi Sari, termasuk menggunakan santet dan ritual gelap. Dengan bimbingan sosok misterius yang mengaku mampu “menguatkan energi mistis”, Ningsih mulai menggunakan kekuatan-kekuatan yang tidak terlihat untuk mencelakai Sari. Akibatnya, Sari mulai mengalami kejadian-kejadian ganjil: tubuhnya merasa berat, mimpi buruk datang berturut-turut, dan ia melihat sosok-sosok halus yang mengintainya bahkan pada siang hari.

Said yang melihat perubahan pada Sari mulai curiga bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi. Ia mencoba menelusuri sumber gangguan tersebut, dan penelusurannya membawa dia pada pertemuan dengan Ki Dalang, tokoh tua yang dipandang “suci” oleh warga. Namun Said melihat hal yang berbeda. Ki Dalang ternyata merupakan otak di balik ritual dan praktik syirik yang selama ini dijalankan. Ki Dalang memanfaatkan kepercayaan warga untuk mendapatkan kuasa spiritual sekaligus kuasa sosial, seakan ia adalah jembatan antara manusia dan makhluk gaib penjaga laut.

Tekanan sosial semakin intens ketika Pak Lurah ikut mendukung ritual itu demi “kesejahteraan desa”. Banyak warga percaya bahwa gagal melaksanakan ritual dapat mendatangkan musibah besar, mulai dari gagal panen hingga bencana di laut. Keyakinan ini membuat semua orang tunduk pada perintah Ki Dalang, sehingga siapapun yang menolak dipandang membawa sial. Sari terperangkap di tengah kekuatan yang lebih besar dari dirinya, dan Said harus menghadapi bukan hanya kekuatan gaib, tapi juga perlawanan warga yang fanatik.

Konflik semakin meningkat ketika Sari mengalami kerasukan saat latihan tarian ritual. Suaranya berubah, matanya kosong, dan ia menggumamkan kata-kata dalam bahasa yang tidak dimengerti siapapun. Said segera menyadari bahwa Danyang Laut Selatan sudah mulai mencampuri tubuh Sari. Ia memutuskan untuk menyelamatkan Sari, meski itu berarti melawan kehendak ibunya sendiri yang sangat percaya pada ritual tersebut. Pertentangan antara Said dan ibunya menjadi salah satu titik emosional terkuat dalam cerita, karena Santika merasa bahwa ia melakukan semua ini demi kebaikan desa dan masa depan Sari.

Dalam pencarian cara untuk menghentikan ritual, Said menemui seorang ustaz yang tinggal jauh di luar desa. Ustaz tersebut memperingatkan bahwa energi yang terlibat dalam ritual bukan sekadar “sosok penjaga”, melainkan entitas yang akan meminta tumbal jika tidak diberi persembahan sesuai perjanjian leluhur. Ketika usia ritual semakin dekat, tekanan gaib dan tekanan sosial bercampur menjadi ancaman besar. Sari semakin sering hilang kesadaran, dan Ningsih semakin nekat menggunakan santet untuk memastikan Sari jatuh.

Puncak cerita terjadi pada malam ritual di tepi pantai, ketika warga berkumpul dengan pakaian tradisional dan lilin-lilin menyala dari ujung ke ujung. Ombak bergemuruh tidak biasa, seolah ada sesuatu yang menunggu di balik gelapnya air laut. Saat Sari mulai menari, tubuhnya tampak dikendalikan oleh sesuatu yang bukan dirinya. Angin berputar seperti pusaran, dan suara-suara asing terdengar dari arah laut. Said yang telah bersiap sebelumnya memutuskan untuk menghentikan ritual meski ditentang keras oleh Ki Dalang dan warga.

Pertarungan antara keyakinan, tradisi, dan kebenaran batin terjadi secara metaforis maupun fisik. Ki Dalang mencoba menghentikan Said dengan kekuatan gaib yang telah ia pelihara selama bertahun-tahun, namun kekuatan itu mulai berbalik menghancurkannya ketika Said membaca ayat-ayat yang telah ia pelajari di pesantren. Suasana ritual berubah kacau; warga ketakutan dan banyak yang menyadari bahwa mereka telah ditipu oleh ajaran yang menyimpang.

Akhirnya, Sari berhasil diselamatkan dari pengaruh Danyang, meski tubuhnya sempat limbung dan dunia di sekelilingnya seakan runtuh. Ki Dalang kehilangan kekuatannya, dan desa memasuki masa pemulihan panjang untuk kembali pada nilai-nilai yang benar. Said dan Sari menjadi simbol perubahan dan pengingat bahwa kepercayaan buta pada ritual tanpa pemahaman dapat menuntun pada malapetaka. Pada akhirnya, film ini bukan hanya tentang horor gaib, tapi juga tentang konflik batin manusia, keimanan, serta keberanian untuk melawan syirik meski seluruh desa berdiri di sisi yang salah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *