Alin adalah mahasiswi Indonesia yang mendapatkan kesempatan magang di sebuah perusahaan teknologi di Seoul. Ia datang dengan harapan bisa memperbaiki hidupnya setelah serangkaian kegagalan akademik dan masalah keluarga di Indonesia. Perusahaan menyediakan sebuah asrama lama untuk para peserta magang. Gedung itu tinggi, sunyi, dan terlihat tidak terawat, tetapi Alin tidak punya pilihan lain karena biaya sewa di luar sangat mahal.
Sejak malam pertama, Alin merasa tidak nyaman. Lampu lorong sering mati sendiri dan suara langkah terdengar di lantai atas, padahal tidak ada siapa pun. Ia mencoba mengabaikan semua itu. Beberapa hari kemudian, ketika sedang membersihkan laci kamar, Alin menemukan sebuah ponsel lama tanpa kartu SIM. Ponsel itu tiba-tiba menyala dan menampilkan satu pesan dalam bahasa Korea. Setelah diterjemahkan, bunyinya hanya satu kalimat: “tolong saya”.
Alin mengira itu hanya sisa pesan dari pemilik sebelumnya. Namun, pada malam yang sama, pesan serupa muncul di layar laptopnya yang sedang tertutup. Keesokan harinya, ketika ia sendirian di dalam lift asrama, layar lift menampilkan tulisan yang sama. Sejak saat itu, gangguan mulai terjadi lebih sering. Alin mendengar suara perempuan menangis pelan di ujung koridor dan melihat bayangan seseorang berdiri di depan pintu kamarnya, lalu menghilang begitu lampu dinyalakan.
Di kantor, Alin mulai dekat dengan seorang pegawai lokal bernama Jisoo. Saat Alin tanpa sengaja menyebut asrama tempat ia tinggal, wajah Jisoo langsung berubah. Awalnya Jisoo menghindar, tetapi akhirnya ia mengaku bahwa dulu pernah ada seorang pegawai perempuan yang tinggal di asrama itu. Perempuan tersebut terlibat dalam sebuah kasus kebocoran data besar yang hampir menjatuhkan perusahaan. Versi resmi menyebutkan bahwa perempuan itu adalah pelakunya dan melarikan diri sebelum bisa dimintai pertanggungjawaban.
Malam berikutnya, gangguan yang dialami Alin berubah bentuk. Ia tidak hanya mendengar suara, tetapi juga melihat potongan kejadian seperti kilasan ingatan yang bukan miliknya. Ia melihat seorang perempuan duduk di ruang arsip sambil menangis, seorang manajer membentaknya, dan sebuah dokumen yang dipaksa untuk ditandatangani. Semua muncul seperti mimpi singkat, lalu menghilang.
Alin mulai yakin bahwa gangguan itu bukan sekadar teror. Ia merasa sedang dituntun untuk mencari sesuatu. Dengan akses magang yang ia miliki, Alin mencoba masuk ke server lama perusahaan. Ia menemukan folder yang sudah lama dikunci dan tidak bisa diakses oleh pegawai biasa. Jisoo, yang sebenarnya masih diliputi rasa bersalah, akhirnya membantu membuka sebagian arsip.
Dari dokumen yang berhasil dibuka, terungkap bahwa kasus kebocoran data di masa lalu tidak pernah diselidiki secara jujur. Perempuan yang dulu tinggal di asrama itu sebenarnya menemukan indikasi bahwa pelaku utama adalah salah satu eksekutif perusahaan. Ketika ia melaporkan temuannya, manajemen justru menutup kasus tersebut. Perempuan itu dipanggil ke ruang rapat, ditekan, dan diminta menandatangani laporan yang menyatakan bahwa dirinya bertanggung jawab atas seluruh kejadian.
Gangguan yang dialami Alin semakin kuat setiap kali ia membuka dokumen baru. Ia mulai melihat sosok perempuan itu lebih jelas. Sosok tersebut tidak menampakkan wajah menyeramkan, melainkan terlihat kelelahan dan penuh ketakutan. Alin mulai memahami bahwa arwah itu bukan ingin menakut-nakuti, melainkan meminta tolong.
Alin kemudian menemukan satu file terpenting, yaitu rekaman suara rapat internal. Di dalam rekaman tersebut terdengar jelas bagaimana seorang petinggi perusahaan menyuruh tim legal mengalihkan seluruh kesalahan kepada perempuan itu. Dalam rekaman lain, terdengar suara perempuan tersebut menangis sambil berkata bahwa ia tidak bersalah.
Saat Alin hampir berhasil mengunduh semua file, aksesnya tiba-tiba terputus. Ia langsung dipanggil ke ruang HR bersama atasannya. Di ruangan itu, Alin diperingatkan untuk berhenti membuka arsip lama yang tidak berkaitan dengan pekerjaannya. Atasannya menyebut bahwa status Alin sebagai peserta magang asing bisa menjadi masalah besar bila ia dianggap melanggar kebijakan perusahaan. Alin secara halus diancam bahwa kontraknya dapat dihentikan sewaktu-waktu.
Tekanan tersebut membuat Alin goyah. Pada malam itu, di kamar asrama, ia kembali didatangi sosok perempuan itu. Untuk pertama kalinya, sosok tersebut terlihat sangat jelas berdiri di depan Alin. Tidak ada teriakan, tidak ada serangan. Hanya tatapan penuh keputusasaan. Di layar ponsel lama, tulisan “tolong saya” muncul kembali.
Alin menyadari bahwa dirinya sekarang berada di posisi yang sama seperti korban di masa lalu: sendirian, mudah disingkirkan, dan tidak punya perlindungan. Namun justru karena itu, ia memutuskan untuk tidak berhenti.
Dengan bantuan Jisoo, Alin berhasil mendapatkan salinan lengkap seluruh rekaman dan dokumen. Di klimaks cerita, Alin tidak mengirimkan data tersebut ke manajemen, melainkan langsung ke media dan lembaga pengawas independen. Ia tahu risikonya sangat besar, tetapi ia juga tahu bahwa bila ia menyerah, kasus ini akan terkubur selamanya.
Beberapa hari kemudian, berita tentang perusahaan itu meledak ke publik. Rekaman rapat bocor, dokumen internal tersebar, dan penyelidikan resmi pun dimulai. Nama perempuan yang dulu dituduh akhirnya dibersihkan. Publik mengetahui bahwa ia hanyalah korban dari manipulasi perusahaan.
Konsekuensinya, Alin langsung diberhentikan dari program magang. Ia harus meninggalkan asrama dan bersiap kembali ke Indonesia.
Di adegan terakhir, sebelum meninggalkan kamar medusatoto togel, Alin melihat ponsel lama itu menyala untuk terakhir kalinya. Tidak ada lagi pesan “tolong saya”. Yang muncul hanyalah satu kalimat singkat berisi ucapan terima kasih. Setelah itu, layar mati dan ponsel tidak pernah menyala lagi.
Gangguan di asrama berhenti sepenuhnya. Sosok perempuan itu tidak pernah muncul lagi.
Film berakhir dengan Alin keluar dari gedung asrama di pagi hari, tanpa pekerjaan, tanpa kepastian masa depan, tetapi dengan perasaan bahwa ia telah melakukan satu hal yang benar. Teror dalam film ini pada akhirnya bukan tentang hantu jahat, melainkan tentang suara korban yang tidak pernah didengar, dan satu orang biasa yang berani membuka kebenaran meskipun harus membayar mahal.




